Jumat, 27 Juli 2018

Jarak: Bogor-Siantar


Apakah jauh itu benar tentang jarak?
Saat kupejam mata sejenak
Bisa kubayangkan dalam benak
Sejernih bening pada kaca-kaca yang kita tatap
Di ruang senyap

Kau yang berjibaku dengan waktu
Mati-matian merangkai diksi jadi puisi
Aku di sudut
Mengintip bulir peluh di pelipis
Dan kita bercengkrama dalam diam

Lantas,
Benarkah jauh selalu tentang jarak?
Kututup telinga dan kudengar suaramu mengirama
Katanya jauh
Mengapa suaramu dari hati?

Kita jauh, kata jarak
Tapi jarak tak punya kata-kata

Bogor dan Siantar hanya sekedip
Lihat,
Kau di mataku
Kau di pendengaranku
Kau di hatiku

Kamis, 12 Oktober 2017

Sebuah Pengertian

Dengan agak kesal kurapikan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja kerjanya."Duh, berapa kali sih, harus diingatkan supaya bisa lebih rapi?!!" batinku. Aku sedang mencoba memasukkan sebundel kertas ke dalam laci mejanya yang membludak, ketika kudengar suara cerianya dari luar.
"Abi pulaaaaaang!"
Akhirnya kujejalkan begitu saja bundelan itu, dan bergegas ke pintu depan untuk menyambutnya. Pikiranku sibuk menata kata-kata apa yang akan aku sampaikan supaya lelaki ini bisa 'tobat' dari aksi berantakannya. Alisku nyaris menyatu, kesal sekali. Aku lelah seharian berhadapan dengan tugas rumah tangga dan urusan dapur. Kesal, jenuh, bosan, dan ingin marah. Ditambah lagi kelakuannya yang sembrono. Begitu kubuka pintu, aku sudah siap meluapkan keluh kesahku. Namun, alih-alih mendapati wajahnya, aku malah berhadapan dengan sebuket bunga mawar cerah. Aku terpelongo.  Kemudian mawar itu digenggamkan ke tanganku, dan tampaklah wajah letih dan senyum khas lelaki yang pernah dalam sekali kucintai.
"Assalamu'alaikum, umi.." katanya lembut. Aku meleleh. Menyesal dengan keluh kesahku. Aku tau dia juga lelah. Tetesan keringat mengalir pelan dari dahinya. Tentu saja, dia juga bekerja. Demiku, demi kami. Perlahan anak sungai terbentuk di pipiku. Terharu, dan marah pada diriku.
"Loh, umi kok nangis? Terharu ya? Hehe.." dia bertanya polos, lalu mengusap pipiku. Aku tersenyum. Dalam hati kubalas salam yang belum sempat mendapat jawaban itu. Seketika lelahku serta emosiku mereda. Betapa lembutnya lelaki di hadapanku ini. Memalukan sekali aku kehilangan kendali dan emosi, sementara romantisme darinya begitu terbaca.

Fire Wings Richeese Factory

Suatu hari, seorang murid di sekolah kehidupan pergi mengembara. Ia menunggangi kuda ajaibnya yang berwarna merah muda. Perjalanan yang ia tempuh cukup jauh dan melelahkan. Murid itupun merasa lapar, perutnya yang memang agak berbeda dengan perut manusia kebanyakan bergenderang nyaring dan berisik. Demi memenuhi hasrat perutnya yang berkeroncong itu, ia mengarahkan pacu kudanya menuju pasar. Kuda terus berderap dengan kencang dan akhirnya tibalah mereka di pinggir pasar. Dari kejauhan, murid itu melihat sebuah tenda besar berwarna merah dan oranye, sangat mencolok di keramaian pasar. Seperti tersihir, ia menghampiri tenda itu tanpa menoleh kemanapun lagi. Di atap tenda itu terpasang tulisan 'pabrik keju'. Alih-alih menjual keju, tenda tersebut malah menjual ayam bermacam-macam. Sang murid melongo dan mengagumi serba serbi ayam itu. "Anda sedang lapar, Tuan?" Penjaga stan menghampiri dan bertanya. Ia adalah seorang bapak gendut yang kelihatan sangat ramah dan kenyang. Pipinya gembil berwarna merah berseri-seri. Entah mengapa, melihat bapak itu nafsu makan sang murid meningkat berkali lipat. Ia secara spontan menunjuk seonggok daging ayam yang warnanya cerah sekali, tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Wah, wah. Itu adalah ayam api, Tuan. Rasanya pedas luar biasa. Tapi untuk menghilangkan pedasnya, saya sudah menyiapkan air ramuan yang segar ini. Lengkap dengan pasta keju yang lezat!" Penjaga stan tampak semangat menjelaskan menunya yang 'pedas' itu. Sang murid mengangguk, ia ingin mencoba ayam api. Lantas ia pergi meninggalkan pasar dan berteduh di bawah sebatang pohon yang di bawahnya terdapat mata air kecil. Gigitan pertama, rasa lezat menghampiri seisi mulut sang murid. Gigitan kedua, rasa pedaslah yang singgah. Gigitan ketiga, telinganya serasa terbakar. Buru-buru ia meminum ramuan yang diberikan tadi, yang warnanya sangat mirip kuda ajaib dan rasanya pun ajaib. Meskipun lidah dan telinganya serasa terbakar, serta matanya mulai berair lantaran kepedasan, ia seolah tidak mampu berhenti mengunyah. Setelah habis santapannya, sang murid duduk sejenak. Perlahan, rasa nyeri menusuk-nusuk perutnya. Oh tidak! Ia dilarang tabib makan makanan pedas. Sekarang, maagnya kumat  

The End

Rezeki Bubur Ayam

Fabiayyi 'ala irabbikuma tukadzdzibaan?

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Kisah ini harus diurai kembali menuju masa lalu. Tepatnya 6 tahun yang lalu. Bercerita tentang satu porsi bubur ayam. .
.
Alkisah, 6 tahun yang lalu, ada seorang anak gadis yang sangat suka makan bubur ayam telkom siantar. Rasa merica yang menggigit lidahnya tidak hilang dari ingatan. Suatu hari, gadis itu sangat ingin makan bubur ayam tersebut. Dia pun berkata pada teman-temannya:
.
.
Anak gadis: pengen bubur ayam telkom kali lho weee (logat siantar)
Kawan-kawan: kau belilah sana ke telkom itu
Anak gadis: kayaknya istirahat kedua aku mau naik angkot lah ke sana
Kawan-kawan: pigilah kau sana. Jauh gitu kok mau pigi pulak (ngejek)
Anak gadis: gak tau aku weee. Kok pengen kali yaa?
.
.
Anak gadis itu pun termenung saking pengennya. Dia pun bertekad mau naik angkot buat beli bubur ayam telkom yang jauh kali dari sekolahnya. Tiba-tiba....
.
.
"Trik, kau dicariin mamakmu!" Kata kawannya. Anak gadis ini langsung melihat ke arah pintu kelas. Di sana berdiri sesosok perempuan bercadar dengan kantong plastik berwarna merah. Itu adalah bu AL, ibu si anak gadis, sekaligus guru di sekolahnya. Bu AL masuk dan meletakkan kantok plastik itu. .
.
Bu AL: mama teringat kakak belum sarapan. Jadi mama beli ini
.
.
si anak gadis pun membuka box yang ada di plastik merah itu dan menemukan BUBUR AYAM TELKOM SIANTAR
.
.
Dengan mata berbinar dia berkata pada bu AL
.
.
Anak gadis: dari tadi pengen ini lho ma
Bu AL: (tersenyum, eh gak kelihatan) rezekinya kakak
Anak gadis: 😢😢😢 terima kasih ya Allah
.
.
Demikianlah, anak gadis itu pun makan bubur ayam yang diidam-idamkannya sedari pagi.
.
.
Sekian
pigi: pergi
Kali: banget
Pulak: pula

pencuri

Kau pastilah waktu, yang banyak mencuri dariku. Merenggut masa kecil yang asam murbei ungu. Merampas perih dari tajam jarum tusam, wanginya menusuk inderaku

Kau kijang kecil, terperangkap semak kaliandra di kebun kenangan
Kau angin beku, merias udara dengan napas putih
Kau ayunan tua bergoyang sendiri sepi, ternaung si kelengkeng yang malas berbuah
Kau semak belukar, ibuku marah sebab bajuku rusak kau jerap


1999-2005
Aek Nauli, Sumatera Utara


kunci-mu

"Hey.." sapamu. Aku berbalik dan menemukan sepasang mata yang berbinar. Aku menatapmu heran. Ada apa?
"Apa kau punya kuncinya?" Tanyamu sambil berseri. "Kata orang kau punya kuncinya. Tolong beritahu aku!" Ujarmu lagi. Aku semakin tak mengerti. Kunci manapun yang kau maksud, jelas aku tak memilikinya. Satu-satunya kunci yang ada di saku-ku, dan di seluruh tempat manapun yang adalah hak-ku, hanya kunci berkarat tempat tinggalku. Rumah mungil yang rasa-rasanya hampir roboh. Aroma kayu dan rayap yang mungkin beribu-ribu itu selalu menerpa saat pintunya yang berdecit kubuka. Selain itu, aku tidak punya kunci. Kunci loker sekalipun. Aku menggeleng menjawab pertanyaanmu, dengan bingung. Wajahmu memelas, dan kau mendesak, "Tapi orang-orang bilang kau punya!" Hah! Geram sekali aku melihatmu. Tidak ya tidak. Sekali lagi aku menggeleng, "kunci apapun itu, aku tidak tau" kataku. Mencoba meyakinkan. "Memangnya kau cari kunci apa?"
"Aku mencari kunci agar mampu menyelami laut dunia tanpa meninggalkan tempat ini" suaramu lesu, namun ada secercah harap. "Aku juga mencari kunci, untuk menatap matahari terbenam di pagi hari.." Mana bisa! Matahari terbenam di sore hari, batinku. "Aku mencari kunci...membuka jendela dunia" Aku tersentak, seperti memahami. Tapi aku mengeleng lagi, seketika lupa apa yang kau maksud, meski beberapa detik sebelumnya memaknai tujuanmu. "Adilnya begini, kau ikut aku saja ke rumahku. Nanti kau cari sendiri kunci itu" rayuku. Aku duga kau tidak punya tempat tinggal dan usiamu terlihat amat muda. Tak akan kubiarkan kau kelaparan. Kau setuju. Perlahan kita menaiki tangga reyot, membuka daun pintu yang berdcit, menghirup aroma kopi, dan menemukan..selemari penuh buku-buku terpampang serampangan di rak lapuk, nyaris tumbang...
Dan matamu... binarnya semakin terang
#random

Buku dan Kesia-siaan

"Ya Allah, dek. Buku lagi?" Mas Ridwan setengah tak percaya melihatku yang kewalahan membawa buku-buku berdebu. Buku itu kutemukan di sudut kota, tepatnya di dalam toko tua beraroma kayu. Papannya jelas-jelas mengatakan 'jual beli buku bekas'. Sejak pertama kali kakiku menginjak lantai papan yang berdenyit itu, aku langsung jatuh cinta. Kerap kali aku ke sana hanya sekedar mengagumi buku-buku yang covernya nyaris lepas.
"Aneh kamu ini," begitu selalu Mas Ridwan menanggapi permintaanku akan buku-buku itu. Katanya, kebanyakan wanita teman-temannya meminta barang-barang mewah atau trendi atau apalah, yang jelas bukan buku dengan kertas hilang dimakan rayap. Tapi, diserahkannya juga sejumlah uang agar minatku pada kata-kata terpenuhi. Beberapa hari aku mulai akrab dengan penjaga toko, seorang gadis berkacamata. Dan ada pula satu pelanggan tetap, seorang lelaki yang selalu memesan kopi susu yang memang disediakan. Aku memperhatikan bahwa laki-laki ini menaruh hati pada si gadis, sama dengan aku yang mencintai buku. Aku sering pulang dari toko, seperti kali ini, dengan banyak buku. Rumahku penuh buku. Sampai Mas Ridwan mengeluh rumah itu aromanya seperti jaman dahulu. Dan kali ini Mas Ridwan tak tahan dengan tingkahku. Dia dengan syok memandangi buku-buku yang semakin lama semakin menggunung.
"Ay, aku tau kamu suka buku. Aku paham. Aku gak marah kalo kamu belanja buku. Tapi...ini keterlaluan!" Katanya. Alisnya hampir menyatu pertanda kesal. Aku menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Tapi aku cinta buku, Mas.." jawabku.
"Iya, aku tau. Tapi kalo tiap hari kamu pulang bawa buku segini banyak, belum dibaca pula, buat apa? Mencari ilmu gak sampe mubazir gini, Ay!" Katanya lagi.
Aku terisak. Akhirnya lelakiku ini melembut. Diusapnya pipiku.
"Aku gak marah. Aku senang kamu rajin mencari ilmu. Tapi selesaikan satu persatu, ya. Boros itu sifatnya setan, yang boros temennya setan. Kalo kamu beli tapi gak dibaca, kan sayang. Masa perempuanku yang cantik temenan sama setan?" Dasar sok lucu!
Aku terhenyak juga. Buku-buku itu lebih banyak menumpuknya daripada dibaca. Ah, aku jadi merasa bersalah. Baiklah, aku selesaikan!