Waktu
Yang dikutuk karena hujan dan kemejamu basah
Kisah rumit mengikuti jalanan becek
Basah dibasuh lumpur yang menyayat
Luka borok membusuk di balik kemejamu basah
Dan kisah semakin rumit
Dan luka semakin sakit
Dan kemejamu basah
Pada rangkai kata aku menjumpaimu. Diam yang ribut. Read at your own risk. Resiko ditanggung pembaca
Kamis, 25 Mei 2017
Kamis, 31 Maret 2016
April Mop, Lelucon, dan Islam dalam Menanggapinya
"Li...pulang sekarang!" Kata Tio dari seberang telepon. Ali bingung. Tumben sekali sepupunya yang pelit itu rela mengeluarkan pulsa demi meneleponnya. Pasti ada sesuatu.
"Kenapa, yo?"
"Ada kabar buruk. Udah, buruan pulang sekarang!" Suara Tio panik. Ali makin merasa khawatir tak karuan. Diambilnya helm dan sepeda motor. Dia memacu kendaraannya segera menuju Depok, rumahnya. Di perjalanan hujan turun serintik demi serintik, lantas lama-lama menderas membasahi jalanan. Ali tak peduli. Ia ingin segera pulang dan mengetahui kabar buruk apa yang menanti.
Sesampainya di gang rumah, dilihatnya bendera kuning terpasang. Hatinya makin dag-dig-dug. Ada apa? Dia hentikan motornya, dengan perlahan dilangkahkan kakinya yang mulai terasa berat. Ada apa ini ya Rabbi? Di pintu rumah, Tio menunggu dengan pakaian serba hitam. Beberapa sepupu yang lain pun sama. Ali lemas.
"Ada apa?" Tanyanya nyaris tak terdengar.
"Ibu..ibu.." Tio terbata.
"Ibu kenapa yo???" Ali menatap Tio, memohon agar jawaban yang diterimanya tak menyedihkan. Air mata menetes. Ali menggeleng-gelengkan kepala. Ibu pasti baik-baik saja.
"Sabar li.." Tio mengusap punggung sepupunya itu.
"Tapi aku baru ketemu ibu minggu lalu. Ibu baik-baik aja" Kata Ali sambil sesenggukan. Tiba-tiba Tio tertawa tertahan.
"Makanya, kubilang sabar. Ibu..ibu..baik-baik aja! Huahahaha! APRIL MOP!" Kata Tio. Ali tersentak. Apa?? Ini semua cuma lelucon? Tangan kebas, basah kuyup, dan isak tangisnya ini hanya lelucon? Tio masih tertawa kegirangan. Sepupu yang lain juga tertawa, ada yang memegang bendera kuning yang tadinya dipajang di gang rumah. Ibu Ali datang menenteng belanjaan.
"Ada apa ini?" Tanyanya heran, apalagi dilihatnya anak lelakinya ada di rumah. Ali setengah tak percaya menatap ibunya dan Tio. Hampir saja dimakinya Tio, jika tak mengingat sabda Rasulullah, "Laa taghdhab wa lakal jannah. Jangan marah, bagimu surga". Ali mendesah. Tio menepuk-nepuk punggung basah Ali.
"Becanda, li. Becanda. Ulang tahunmu kan besok, sekalian april mop juga." Dengan gigi gemeretak Ali menepis tangan Tio, lalu menuntun belanjaan ibunya. Grr...keterlaluan. jauh-jauh ia naik motor dari Bogor ke Depok hanya demi lelucon tak berguna.
***
Kisah di atas merupakan salah satu contoh dari perayaan april mop. Sudah menjadi tradisi, tanggal 1 April dirayakan sebagai Hari Lelucon Sedunia. Pada hari ini, orang-orang dianggap boleh bercanda semau hatinya. Kebohongan demi kebohongan dilontarkan, untuk menarik tawa dari orang yang menyaksikan. Lantas, bagaimana Islam melihat perayaan Hari Lelucon ini?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْت فِي رَبَضِ الْجَنّّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كََانَ مُحقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَط الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِ بَ وَإِنْ كَانَ مَازِ حًا وَبِبَيتِ فِي أَغلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
"Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yang memperbaiki akhlaknya."[1]
Oleh sebab itu, berdusta meskipun hanya bercanda tidak diperbolehkan. Di hadits lainnya diriwayatkan, Rasulullah saw memberikan peringatan terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Sabda beliau,
وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
"Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia" [2]
Bercanda bukanlah sesuatu yang tidak diperbolehkan sama sekali. Rasulullah tetap bercanda, namun semua yang dikatakan beliau benar adanya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya,“Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” [3]
Berdusta hanya boleh dilakukan untuk hal-hal tertentu saja. Misalnya, dalam berumah tangga seorang suami boleh berkata bahwa makanan yang dimasak istrinya enak untuk menyenangkan hati istrinya tersebut, meski kenyataannya tidak. Dalam strategi berperang pun, perkataan bohong boleh diucapkan. Hal ini berdasarkan hadits yang dikatakan Ibnu Syihab. lbnu Syihab berkata; "Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal, yaitu; dusta dalam peperangan, dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dan dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami (untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan)."
Terdapat banyak sekali ancaman bagi para pendusta. Perkataan dusta dapat membawa kepada dosa yang besar. Apalagi jika dusta yang kita ucapkan membuat khawatir saudara atau teman kita. Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud).
Islam begitu sempurna dalam mengatur adab dalam hidup sehari-hari. Bahkan, untuk bisa menjaga perasaan muslim maupun manusia lainnya, berbagai hadits dan wahyu diturunkan. Semua ini menunjukkan kesempurnaan Islam dalam mengatur tatanan hidup di muka bumi. Masya Allah.
Sementara itu, manusia malah seringkali lalai dalam mengikuti petunjuk hidup yang telah diberikan. Dunia dianggap sebagai tempat untuk bercanda-ria. Banyak yang lupa bahwa setiap perbuatan dan perkataan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Allah swt. Berfirman di dalam Al Quran surat An Nisaa ayat 142, yang artinya:
"Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit"
Maka dari itu, perayaan april mop merupakan sesuatu yang tiada gunanya. Banyak tertawa juga dapat mengeraskan hati. Daripada lisan ini digunakan untuk bercanda dan berdusta, bukankah lebih baik ia digunakan untuk dzikrullah, yakni mengingat Allah?
"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab:41)
Wallahu'alam
(Tria Ratu Hudzaifah)
"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab:41)
Wallahu'alam
(Tria Ratu Hudzaifah)
Rabu, 06 Januari 2016
aku kamu
Sebuah cerita
Tokoh: aku, kamu
Aku adalah seorang penjaga toko, yang ruangannya dipenuhi bunga daisy kuning-putih, aroma kayu dari bangunannya, berbaur dengan kopi susu di dalam mug keramik. Di sekitarnya banyak rak-rak dengan buku tua. Aku si kutu buku berkacamata.
Kamu adalah seorang pelajar yang gila sastra. Minuman favoritmu adalah kopi susu. Saban hari kamu mengunjungi toko, dan menatap buku di rak serta menghirup aroma kayu. Kita tak pernah berbicara. Suatu hari kamu datang, bukan untuk secangir kopi susu, tapi untuk memberikan bingkisan berwarna hijau sendu. Aku menatapmu terheran, matamu mengisyaratkan, buka saja. Di dalamnya terdapat buku yang jadi favoritku, di lembarnya terdapat sajak yang buatku terhenyak
Kau gadis beraroma kayu
Kesukaanmu adalah buku
Apa syaratku memilikimu?
Aku diam. Kuambil secarik kertas, lantas kujawab pesanmu
Kau pria kopi susu
Saban hari mengunjungiku
Aku tak mengenalimu
Mengapa kau menginginkanku?
Kamu lirih berkata, "tak layak kuungkapkan alasannya sekarang, gadis". Aku diam. Dan kamu bertanya kembali, "dimana rumahmu, gadis?apakah halamannya dipenuhi daisy kuning-putih?" Aku tetap diam. Kuukir lagi kata dengan pena
Mendapatkanku tak segampang itu
Mau tau ya cari tau
Kamu tersenyum. Gelas kopi susumu sudah habis, tertinggal di atas meja. Kamu meninggalkannya begitu saja. Lantas, kamu pergi.
Berbulan aku masih di sini, menjadi penjaga toko. Masih dengan aroma kayu, bunga daisy, dan tumpukan buku, tapi tanpa kopi susu. Bingkisan hijaumu tergeletak kesepian di sudut ruang, hanya ditemani selembar sajak.
"Hai, gadis. Kopi susu satu" aku terbelalak. Suaramu. Dan aroma kopi susu menyeruak kembali di ruang itu. Kamu menunggu, aku diam.
"Gadis, maukah kuceritakan tentang sebuah kota?" Dalam hati aku menjerit. Tentu! Tapi aku tau malu.
"Tidak, terima kasih."
"Kenapa?"
"Karena aku bukan tempatmu berbagi cerita." Sahutku. Jujur saja, batinku menggebu ingin tau. Tapi tidak.
Hari berlalu. Kali ini aku tidak menjadi penjaga toko. Aku adalah gadis yang sedang menatap bocah di halaman rumah. Ketukan terdengar di pintu. Kamu.
"Gadis, ayahmu ada?" Tanyamu tanpa basa basi. Terbata aku berkata
"Ada."
"Gadis, bolehkah aku masuk?"
"Silakan."
Kini kamu berhadapan dengan ayahku. Peluh membasahi dahimu, tapi senyum masih merekah di bibirmu.
"Tuan, bisakah saya memiliki putri tuan?" Tanyamu. Lagi, aku terhenyak.
"Mau kau jadikan apa gadisku?" Ayahku menjawab keras.
"Kujadikan seorang ratu, tuan." Katamu. Dan aku tersipu
#naoneta #iseng
Tokoh: aku, kamu
Aku adalah seorang penjaga toko, yang ruangannya dipenuhi bunga daisy kuning-putih, aroma kayu dari bangunannya, berbaur dengan kopi susu di dalam mug keramik. Di sekitarnya banyak rak-rak dengan buku tua. Aku si kutu buku berkacamata.
Kamu adalah seorang pelajar yang gila sastra. Minuman favoritmu adalah kopi susu. Saban hari kamu mengunjungi toko, dan menatap buku di rak serta menghirup aroma kayu. Kita tak pernah berbicara. Suatu hari kamu datang, bukan untuk secangir kopi susu, tapi untuk memberikan bingkisan berwarna hijau sendu. Aku menatapmu terheran, matamu mengisyaratkan, buka saja. Di dalamnya terdapat buku yang jadi favoritku, di lembarnya terdapat sajak yang buatku terhenyak
Kau gadis beraroma kayu
Kesukaanmu adalah buku
Apa syaratku memilikimu?
Aku diam. Kuambil secarik kertas, lantas kujawab pesanmu
Kau pria kopi susu
Saban hari mengunjungiku
Aku tak mengenalimu
Mengapa kau menginginkanku?
Kamu lirih berkata, "tak layak kuungkapkan alasannya sekarang, gadis". Aku diam. Dan kamu bertanya kembali, "dimana rumahmu, gadis?apakah halamannya dipenuhi daisy kuning-putih?" Aku tetap diam. Kuukir lagi kata dengan pena
Mendapatkanku tak segampang itu
Mau tau ya cari tau
Kamu tersenyum. Gelas kopi susumu sudah habis, tertinggal di atas meja. Kamu meninggalkannya begitu saja. Lantas, kamu pergi.
Berbulan aku masih di sini, menjadi penjaga toko. Masih dengan aroma kayu, bunga daisy, dan tumpukan buku, tapi tanpa kopi susu. Bingkisan hijaumu tergeletak kesepian di sudut ruang, hanya ditemani selembar sajak.
"Hai, gadis. Kopi susu satu" aku terbelalak. Suaramu. Dan aroma kopi susu menyeruak kembali di ruang itu. Kamu menunggu, aku diam.
"Gadis, maukah kuceritakan tentang sebuah kota?" Dalam hati aku menjerit. Tentu! Tapi aku tau malu.
"Tidak, terima kasih."
"Kenapa?"
"Karena aku bukan tempatmu berbagi cerita." Sahutku. Jujur saja, batinku menggebu ingin tau. Tapi tidak.
Hari berlalu. Kali ini aku tidak menjadi penjaga toko. Aku adalah gadis yang sedang menatap bocah di halaman rumah. Ketukan terdengar di pintu. Kamu.
"Gadis, ayahmu ada?" Tanyamu tanpa basa basi. Terbata aku berkata
"Ada."
"Gadis, bolehkah aku masuk?"
"Silakan."
Kini kamu berhadapan dengan ayahku. Peluh membasahi dahimu, tapi senyum masih merekah di bibirmu.
"Tuan, bisakah saya memiliki putri tuan?" Tanyamu. Lagi, aku terhenyak.
"Mau kau jadikan apa gadisku?" Ayahku menjawab keras.
"Kujadikan seorang ratu, tuan." Katamu. Dan aku tersipu
#naoneta #iseng
Minggu, 01 November 2015
berkah musyawarah dan ikhlas dengan takdirNya
Awalnya janjian pergi survey tempat ke rumah si irham, udah fix jam berapa naik apa, tiba tiba di sms penasihat umum "bapak mantan peternak lebah", katanya beliau sedang di damri menuju bogor, dan berniat mengunjungi di peternakan yang kita ga tau dimana dan mau apa, dan si bapak masih otw ke bogor, padahal tinggal satu setengah jam lagi waktu janjian kita. Setelah 'agak' dipaksa untuk ikut, akhirnya nyampein ke temen-temen, gimana kalo ganti arah (dari rumah irham) ke peternakan itu (bahkan belum tau peternakan apa). Dengan kesepakatan bersama (padahal si midab belum sepakat), kita pun setuju untuk nurut sama papa. Janjian ketemu di bni jam sepuluh, ada yang ngaret :p. Kita telpon papa, katanya baru sampe bogor, otw dramaga. Oke deh kita nungguin. Setelah nunggu setengah jam, papa ga dateng juga. Ditelpon lagi, katanya ban motor bocor, nambal dulu, ngantri! Huhu agak ga enak sama yang lain, kesepakatan kan pergi jam setengah sepuluh, ini malah molor sampe jam sebelas. Ditunggu lagi dan lagi, masih ga ada kabar. Kemudian ingat kalo ka faaruq cuma bawa satu helm, dan para lelaki pun kembali untuk ambil helm lagi (makasi ya haha). Setelah jam setengah 12 kurang, finally papa pun tiba. Akhirnya bisa nanya nanya kita mau kemana dan ngapain. Ternyata ke peternakan sapi! Demi apaaaah. Kirain teh ke peternakan lebah. Tapi tsiqoh juga sih. Akhirnya berangkat. Di jalan, motor papa bannya bocor, lagi! Kata papa kita duluan aja cari alamat peternakannya. Setelah bertanya tanya, akhirnya kita nemu alamatnya. Ga ada orang T^T. Bingung mau apa, azan pun berkumandang. Kita sepakat sholat dulu di mesjid bawah. Di jalan lihat mi ayam, pengen gitu deh. Tapi ya udah kita sholat dulu aja. Selesai sholat, papa yang udah dikabari dimana kita berada, akhirnya datang. Selesai sholat kita ga langsung ke peternakan, tapi ngobrol dulu sama papa. Papa malah telponan dulu sama orang. Di hati udah ga enak sama temen temen karena kayanya kelamaan banget. Niatnya kan kita mau pulang bada zuhur, lah ini malah masih mau bergerak setelah zuhur. Papa bilangnya laper, trus ajak kita musyawarah. Katanya biar berkah. Ya udah, sepakat tuh makan dulu. Kita milih mi ayam yang dekat peternakan itu. Sampe di sana, disamvut sama empunya mi ayam. Nah, si irham dan ka faaruq curiga si empunya itu adalah pemilik peternakan. Si midah juga. Waktu masuk ke warungnya pun, tempatnya mirip ruang rapat, malah ada whiteboard dan layar lcd nya. Tulisan di whiteboard pun tentang peternakan. Akhirnya ngadu ke papa. Papa langsung dong, dengan kemampuan diplomasinya, ngajak kenalan si empunya mi ayam. Ternyata bener. Kita kan niatnya mau makan dibayarin papa, eh sama yang punya kita disuruh makan sepuasnya. Gratis. Alhamdulillah. Bapak ini adalah tipe orang yang beradab terhadap tamunya. Luar biasa. Kagum deh. Padahal yang punya kepentingan kita, tapi kita malah dijamu habis-habisan. Awalnya kesel karena papa ga to the point ngobrolnya, ngalor ngidul dulu ke peternakan kambing, sapi, lalalal lilili. Padahal kan kita greget pengen tau gimana bisa ga kita ternak lebah dan sebagainya. Trus papa bilang,yang intinyabyah kita pinter pinter lah ngomong. Masa peternak sapi didatangi sekelompok calon peternak lebah gitu aja, ya dia ga ngerti lah. Jadi basa basi dulu, dan kebetulan papa emang punya minat di peternakan kambing. Ternyata, dengan komunikasi seperti itu, bapak empunya peternakan menjadi lebih percaya dan bisa membantu. Kita diajak keliling kandang, disuguhi teh, mi ayam, baso, soto, jus hehe. Dan yang paling bikin salut sama bapaknya, di peternakan beliau ada mushola, dan pekerjanya sholat di sana. Selesai sholat, ga langsung kerja lagi, tapi ada kultum dari kitab tafsir..bapaknya juga bilang kalo bada subuh baca riyadush sholihin. Benar benar ya. Bukan hanya kepentingan dunia, tapi juga kepentingan akhirat. Setelah banyak banget ngobrolnya, sampe ashar udah berlalu, akhirnya sampailah ke tujuan utama: anak anak ini mau ternak lebah,bisa dibantu? Dan bapaknya bilang, solahkan aja, taroh aja stup di sini :') malah papa pake acara nitip kita segala :') dsn alhamdulillah, semua yang hadir di situ mahasiswa dan alumni ipb. Jadi lebih percaya. Dan koneksi lebih terbangun. Kata papa, semua harus dikaitkan dengan Allah. Coba ban motor papa ga kempes dulu, atau kita duluan ke sini, atau ke rumah irham aja, mungkin kita ga laper dan musyawarah dan ga nemu warung mi ayam itu. Sekalipun kita ke warung itu, mungkin kita ga nemu si bapak yang secara 'kebetulan' ada di sana sedang kedatangan tamu. Alhamdulillah. Keputusan berdasarkan musyawarah memang berkah. Dan syukurlah sabar, ga ngotot mau survey aja. Setidaknya dengan begini link nya begitu bertambah. Bapaknya juga bilang bisa menghubungi teman temannya yang punya lahan dan yang sejalan dengan kami :') alhamdulillah ya Rabb
Rabu, 21 Oktober 2015
Lelaki Istimewa
Ada seorang lelaki yang begitu kucintai. Bahkan saat belum banyak yang bisa kuingat pun, orang-orang bilang aku tak bisa jauh dari lelaki ini. Posisinya di hatiku nomor keenam di bawah ibuku. Dia ayahku. Lelaki yang selalu kupanggil papa, dan dulu pernah meminta kami memanggilnya abi. Papa. Nasihatnya selalu kunantikan. Meski di jaman dulu aku pernah menangis meraung-raung, bmerajuk di kamar berhari-hari karena nasihatnya. Tapi sekarang berbeda. Kata-kata dan berbagai kisah darinya begitu ingin kudengar. Kusadari sekarang, bahwa segala petuahnya itu ibarat tonggak yang menopangku, yang menuntunku. Seorang lelaki yang sabar, yang ikhlas, serta qonaah. Semua yang terjadi padanya dikaitkan dengan Allah. Bahkan di saat-saat paling terpuruk dari hidupnya, ia bersyukur, mengajarkanku dengan teladan apa itu makna kesabaran. Bahkan di saat aku mendapati fitnah-fitnah yang dideranya, ia tersenyum. Papaku..Saat aku marah karena suatu kejadian yang tak diharapkan, dia hanya berkata,"Allah sudah mengatur segalanya. Semua kejadian ini karena Allah. Allah hanya ingin menguji apakah kita sabar, apakah kita ikhlas dengan takdirnya..." Dan aku menangis diam-diam mendengar nasihatnya. Suatu ketika kutanya pada beliau, "Pa, laki-laki bagaimana yang papa harapkan untuk menjadi pendampingku?""Seorang hafiz.." Jawab papa singkat. Aku hanya termenung, bagaimana caranya aku mengabulkan harapan papa? Lalu kutanya lagi, "kapan aku boleh menikah?" "Sekarang juga boleh" jawabnya. jawaban itu mengingatkanku bahwa aku sudah dewasa di matanya. "Cari yang mengerti agama, yang bisa membawa pada surga" kira-kira begitulah pesannya. Papa..mengingatkanku bahwa dunia hanya sementara. Mengingatkanku bahwa dunia hanyalah setetes air di antara lautan. Papa, yang kalau berkunjung selalu membawakanku mangga, yang ia tahu kesukaanku. papa, yang berjam-jam rela menungguku pulang praktikum, hanya demi makan malam bersama. Arigatou gozaimasu, papa. I love you, papa.
Sabtu, 19 September 2015
Tulisan Pelatihan LDK Al-Hurriyyah
ikut pelatihan jurnalistik dari LDK Al-Hurriyyah, disuruh nulis, ya ini hasilnya ahah. Biar gaje yang penting nulis..
Barusan dapat pelatihan menulis
dari Bang SyaiHa, seorang alumni Institut Pertanian Bogor. Kegiatan pelatihan
ini diselenggarakan oleh kakak-kakak SDM kece di LDK Al-Hurriyyah. Awalnya sih
dateng pelatihan Cuma karena wajib hehe. Dan juga enggak punya agenda. Tapi
rasanya bersyukur banget waktu udah sampe di ruang Abu Bakar, walaupun telat
(dasar memalukan). Dari jaman kapan tau sampe sekarang, saya emang udah hobi
nulis. Hobiiii banget. Tapi nulisnya di dalam pikiran, hehe. Apalagi kalo lagi
ngegambar, di setiap gambar itu pasti ada makna ceritanya, dari awal sampe akhir.
Tapi ya itu, tulisannya Cuma ada di memori kepala. Gak tertuang di tulisan
nyata. Gak pernah terpampang. Alasannya? Males, ga pede, lupa. Padahal, selama
kegiatan menggambar (atau kadang-kadang waktu lagi jalan-jalan), kepala itu
udah sibuk banget ngerangkai berbagai macam kata. Udah jadi satu tulisanlah
pokoknya. Niatnya, kalo udah sampe di tempat yang memungkinkan, bakal diketik
atau ditulis ulang. Tapi entah kenapa, kalo udah sampe di depan laptop atau di
depan kertas kosong itu, semua cerita perjalanan itu buyar. Kadang malah ngalor
ngidul semuanya tercampur baur, jadi bingung mau ditulisnya kaya gimana. Kebiasaan
saya, semua itu harus dilakukan secara sistematis, beruntun. Makanya laporan
lebih sering deadline, hehe. Soalnya kalo ga ada data males mau ngerjain. Kalo
belum ada abstrak, ga mau nulis pendahuluan. Dan hari inilah, saya disadarkan,
bahwa tak perlulah sesistematis itu. Menulis itu ga ada aturan. Tulis aja!
Apapun! Se-gak-runut apapun. Biarkan tulisannya mengalir. Dulu juga, waktu
awal-awal masuk kuliah, udah langsung khawatir gimana entar nulis skripsi. Skripsi
terancam kelarnya lama. Dan lagi-lagi, Bang Syaiha menceritakan, bahwa dirinya
itu nulis skripsi 3 hari. Iya, 3 hari! Caranya? Buang pikiran-pikiran data
belum ada, atau mau nulis apa dulu. Pokoknya tulis aja. Ntar datanya dicari,
disusun lagi, diatur ulang. Waaaah, kebetulan nih, lagi ada tugas ngereview
jurnal lalala lilili gitu. Stuck banget. Bingung mau mulai darimana. Setelah
diberitahu nulis aja dulu, baru deh, malam ini saya azamkan, tugas itu harus
kelar. Bismillah..
Barusan dapat pelatihan menulis
dari Bang SyaiHa, seorang alumni Institut Pertanian Bogor. Kegiatan pelatihan
ini diselenggarakan oleh kakak-kakak SDM kece di LDK Al-Hurriyyah. Awalnya sih
dateng pelatihan Cuma karena wajib hehe. Dan juga enggak punya agenda. Tapi
rasanya bersyukur banget waktu udah sampe di ruang Abu Bakar, walaupun telat
(dasar memalukan). Dari jaman kapan tau sampe sekarang, saya emang udah hobi
nulis. Hobiiii banget. Tapi nulisnya di dalam pikiran, hehe. Apalagi kalo lagi
ngegambar, di setiap gambar itu pasti ada makna ceritanya, dari awal sampe akhir.
Tapi ya itu, tulisannya Cuma ada di memori kepala. Gak tertuang di tulisan
nyata. Gak pernah terpampang. Alasannya? Males, ga pede, lupa. Padahal, selama
kegiatan menggambar (atau kadang-kadang waktu lagi jalan-jalan), kepala itu
udah sibuk banget ngerangkai berbagai macam kata. Udah jadi satu tulisanlah
pokoknya. Niatnya, kalo udah sampe di tempat yang memungkinkan, bakal diketik
atau ditulis ulang. Tapi entah kenapa, kalo udah sampe di depan laptop atau di
depan kertas kosong itu, semua cerita perjalanan itu buyar. Kadang malah ngalor
ngidul semuanya tercampur baur, jadi bingung mau ditulisnya kaya gimana. Kebiasaan
saya, semua itu harus dilakukan secara sistematis, beruntun. Makanya laporan
lebih sering deadline, hehe. Soalnya kalo ga ada data males mau ngerjain. Kalo
belum ada abstrak, ga mau nulis pendahuluan. Dan hari inilah, saya disadarkan,
bahwa tak perlulah sesistematis itu. Menulis itu ga ada aturan. Tulis aja!
Apapun! Se-gak-runut apapun. Biarkan tulisannya mengalir. Dulu juga, waktu
awal-awal masuk kuliah, udah langsung khawatir gimana entar nulis skripsi. Skripsi
terancam kelarnya lama. Dan lagi-lagi, Bang Syaiha menceritakan, bahwa dirinya
itu nulis skripsi 3 hari. Iya, 3 hari! Caranya? Buang pikiran-pikiran data
belum ada, atau mau nulis apa dulu. Pokoknya tulis aja. Ntar datanya dicari,
disusun lagi, diatur ulang. Waaaah, kebetulan nih, lagi ada tugas ngereview
jurnal lalala lilili gitu. Stuck banget. Bingung mau mulai darimana. Setelah
diberitahu nulis aja dulu, baru deh, malam ini saya azamkan, tugas itu harus
kelar. Bismillah..
Sabtu, 29 Agustus 2015
Baik
Aku merenung diam di ruang
tengah. Kuperhatikan rintik hujan dari jendela besar yang menghiasi ruangan
itu. Ah, Rei. Pergi ke mana lagi, sih? Batinku bertanya-tanya. Apa karena hujan
ini kamu lama pulangnya? Aku kesepian. Kutunggu Rei sedari sore hari tadi,
hingga kini malam mulai menyibak. Tiba-tiba
kudengar deru mobil, yang lamat-lamat menjadi diam, berganti debum pintu
mobil dan langkah kaki. Rei! Dia pulang. Buru-buru kuraih gagang pintu depan dan
menyambutnya. Di hadapanku berdiri sosok laki-laki tinggi berkacamata, basah
kuyup, di wajahnya terlukis semburat senyum. Bahkan sampai sekarang hatiku
luluh melihat senyum itu.
“Assalamu’alaikum..” Katanya
sambil meraih keningku dan mengecupnya. Sesaat aku melayang.
“Waalaikumsalam” Kuraih tangan
besarnya, dan kutangkupkan di bibirku. Selalu. Dua tahun pernikahan, dan
kebiasaan ini tak menghilang.
“Kamu nunggu aku ya?” Tanyanya
ditemani seringai jahil. Aku tersipu. Tentu saja aku menunggumu, Rei. Tak
tahukah kamu seharian ini aku merindukanmu?
“Hehe..Kamu udah makan? Aku masak
sayur lodeh kesukaanmu.”
“Oh,ya? Belum, aku lapar. Temani
aku makan ya.”
Denting sendok menjadi backsound
canda tawa kami malam itu. Rei sibuk menggodaku, membuat pipiku bersemu merah.
Tapi, dalam hatiku bertanya-tanya. Ke mana kamu seharian ini, Rei?
“Euum, Rei. Boleh aku bertanya?”
“Silahkan, cinta” Katanya lembut.
“Kamu ke mana seharian ini? Lama
sekali pulangnya.” Tanyaku nyaris merengut.
“Ah, iya. Aku lupa memberi tahu.
Padahal sepanjang jalan tadi aku sudah mau cerita padamu. Tapi aku lupa karena
terpesona oleh cantikmu.” Kamu. Selalu saja menggodaku.
“Cerita apa?” Tanyaku lagi
penasaran.
“Tadi ada kecelakaan. Korbannya
si Annisa, teman sekantorku.”
“Innalillahi wa innailahi roji’un.
Lantas, hubungannya dengan keterlambatanmu, apa?” Aku pura-pura tidak tahu. Padahal
jelas terbayang di otakku pasti dia membantu gadis itu ke rumah sakit,
menungguinya sejenak, menenangkan gadis yang shock, dan membelikannya makanan. Persis
seperti saat dulu aku pertama berjumpa dengannya, saat dulu aku kecelakaan.
Sebelum aku tau bahwa kami satu fakultas di kampus.
“Hmm.. Aku bawa dia ke rumah
sakit dengan mobilku. Karena dia shock, aku tunggui ia sebentar. Kemudian aku
memberinya makanan.” Nah, persis. Aku merasakan dentuman amarah di dadaku. Cemburu?
Jadi karena gadis sekantornya aku menunggu seharian?
“Memangnya seberapa parah
lukanya?” Kusembunyikan nada jengkel di suaraku.
“Tak parah, sih. Hanya lecet di
kening dan tangannya. Kakinya sedikit terkilir.”
“jadi untuk itu aku menungguimu
seharian?” Tanyaku tajam. Untuk kening lecet gadis lain? Dia malah tersenyum.
“Aku senang sekali kamu menungguiku.
Bukan karena lukanya, cinta. Tapi karena shocknya.” Iya, sama sepertiku yang
dulu tiba-tiba linglung saat mobil merah itu menyerempetku. Saat aku menyadari
kamu ada di sisi tempat tidurku. Saat kemudian perhatianmu membuat hatiku yang
berdinding baja dijebol cinta.
“Harusnya kamu tidak usah pulang.
Kamu tunggui saja perempuan itu di rumah sakit. Barangkali dia akan jatuh cinta
padamu!” Aku bangkit dari kursi sambil menahan cemburu. Ah, wanita. Betapa pencemburunya.
Betapa penakutnya. Tentu, takut kehilanganmu. Rei terkejut dan hanya mengamatiku
dengan heran. Aku pergi meninggalkannya yang bengong dengan ceritanya.
***
Ketukan di pintu membuatku
menoleh dari bantal yang sedang kutangisi. Berlebihan, memang. Suara Rei
mengiba dari luar.
“Cinta..aku mohon buka pintunya.”
Ketuknya perlahan. Kuacuhkan saja ketukannya.
“Aina..aku mohon. Kenapa kamu
marah?” Ugh, kesal. Tapi akhirnya aku bangkit dan membuka pintu untuknya. Dia
memelukku dengan lembut. Seketika amarahku lenyap ditelan dada bidangnya.
“Cinta, ada apa?” Tanyanya di
sela rambutku.
“Boleh aku memprotes sesuatu?” Kataku.
Dia melepas pelukan itu. Diangkatnya wajahku, dan menatapku dalam. Aku terdiam,
tak ingin mengalihkan pandangan.
“Protes saja, cinta..”
“Kamu terlalu baik..” Desahku
lemah. Terlalu baik, pada semua orang, laki-laki dan perempuan.
“Apa yang salah dari menjadi
baik?” Tanyanya bingung. Aku tersenyum mendengar pertanyaan polosnya.
“Tak ada yang salah dari menjadi
baik. Hanya menimbulkan sedikit kekhawatiran, bahwa perempuan lain akan jatuh
hati karena kebaikanmu. Seperti aku..” Setetes air mata menitik. Dia melongo.
Menjadi baik membuatmu dicintai, Rei. Tapi aku tak suka membagi cinta dengan
orang lain.
“Kenapa kamu mengkhawatirkan itu?”
Diusapnya sungai kecil di pipiku.
“ Aku tak mau kehilanganmu..”
“Siapa yang akan mengambilku
darimu?”
“Gadis-gadis itu. Gadis-gadis
cantik yang jatuh hati padamu. Yang menyalahartikan kebaikan dan perhatianmu.”
Rei menghembuskan napasnya pelan. Kembali dia memelukku.
Dulu, sebelum menikah,
teman-temanku protes saat kukatakan aku akan menikah dengan Rei. Kata mereka,
Rei bukanlah aktivis dakwah. Rei tak menjaga pergaulan dengan wanita lain.
Masih dengan murah hati mengantar mereka naik sepeda motor. Masih dengan baik
hatinya memanggul tas mereka. Masih dengan senyum malaikatnya meminta maaf jika
gadis-gadis itu mempermainkannya. Teman-temanku tak setuju, berkata Rei terlalu
baik pada semuanya. Aku menyangkal. Walau di lubuk hati aku paham. Tapi aku
terlanjur jatuh cinta. Dan entah bagaimana Rei mengatakan dia mencintaiku.
Entah bagaimana dia menghampiri kedua orangtuaku, meminta izin untuk mencuri
hati anak mereka. Ah, tak perlu kau curi, sudah kuserahkan hati ini. Dan setengah
melayang aku terdiam menjawab lamarannya. Diam yang berarti iya. Kebaikan Rei
pada orang lain tentu tak berakhir. Dia masih malaikat penolong. Meski beberapa
kali aku katakan tak perlu seperti itu, atas dasar cemburu. Harusnya aku
mengerti, bahwa baik itu harus. Bahwa menjadi manusia bermanfaat itu layak
menjadi cita-cita. Tapi Rei juga harus mengerti, bahwa ada batasan antara
lelaki dan perempuan, bahwa hati wanita itu lemah, rapuh, dan mudah goyah. Baik
pada mereka berarti mengatakan aku cinta padamu. Wanita itu suka salah
presepsi, Rei.
“Tenang, cinta. Jangan
mengkhawatirkan apa yang tak perlu kamu khawatirkan. Aku mencintaimu, aku tau
itu. Aku bahkan tak sadar ada wanita lain yang menyukaiku, tertarik padaku.
Kukira kaulah satu-satunya yang mau denganku. Dan aku adalah satu-satunya yang
boleh memilikimu, dan kau juga satu-satunya yang boleh memiliku. Tenang, cinta.
Aku tak menganggap gadis-gadis itu sebagai gadis. Mereka hanyalah manusia,
cinta. Menjadi manusia berarti harus menjadi baik, bukan?” Rei menatapku lebih
dalam. Akhirnya aku menyerah, biarkan malaikat ini menjalankan tugasnya, Aina.
Langganan:
Postingan (Atom)