Rabu, 02 Februari 2022

Abang

 Ada anak pertama yang dilimpahi tanggung jawab, ada anak tengah yang hampir tak terlihat. 

Aku dan abang adalah orang paling berisik kalau berdua namun paling senyap di antara keramaian. Dia hemat bicara, sementara aku pura-pura pendiam. Kami lebih sering mengurung diri di kamar masing-masing. 

Mungkin akibat telepati, aku dan abang tetap saja dekat. Kalau ditanya siapa yang membuatku suka membaca misteri, abanglah orangnya. Kelas 4 SD disodorkannya komik Kindaichi. Mungkin bukan pilihan yang tepat untuk anak 9 tahun tapi toh aku menikmatinya. Lalu mengalirlah buku-buku lain, paling banyak Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Lalu berbagai macam film. Kami berdua menjadi maniak film yang sering dimarahi Mama karena katanya sia-sia. 

Dulu waktu rumah kami berjauhan, dijemputnya aku malam-malam. Katanya, "Tu, Real Madrid main malam ini. Ke rumah, ya". Aku menurut saja walaupun di tengah permainan biasanya aku sudah pindah ke alam mimpi. 

Mama sering bertanya, sebenarnya kami membicarakan apa? Dari plot film sampai dialognya kemudian teknologi dan berlanjut pada penciptaan alam semesta. Obrolan khas penggila sains walaupun aku sadar tidak pintar-pintar amat.

Kalau ingin tau rasanya punya abang, rasanya menyenangkan.

Si INFJ dan INFP

Kamis, 20 Januari 2022

SENANDIKA SENJA-Prolog

    Gelas yang kau hirup menyisakan aroma kopi susu dan mengantarku pada masa-masa di mana dulu kau masih bahagia. Raut wajahmu kosong, jelas diliputi hampa yang menyesakkan sementara matamu memandang awang-awang yang sayup-sayup bisa kudengar ada obrolan apa di sana. Seandainya aku bisa membasuh lukamu dan merawatnya dengan baik. Mengembalikan senyummu yang tak pernah terlihat lagi sejak saat itu. Hari di mana dunia runtuh dan hati semua orang berkeping-keping. 
    Ragamu di sini tapi jelas-jelas batinmu pergi. Separoh jiwamu hilang dan aku membencinya. Kutanya pelan, "Jadi, bagaimana?" Hanya hela napas yang keluar dan kita kembali senyap. Bahkan bulan sembunyi, kodok bangkong terdiam, hujan berhenti menari. Ah, hening ini membuatku menderita. Aku mengaduk teh dan lama-lama terhisap ke dalamnya. Larut, lenyap menuju masa lalu.

Selasa, 18 Januari 2022

Mati Lampu

Suara printer sore itu bersaing dengan jangkrik yang mulai muncul. Tuts keyboard bernada bagai piano di jarimu. Sesungguhnya aku tidak harus lembur, tapi sengaja kulama-lamakan diri di sana. Dengan segala kemampuan drama yang kupunya, aku pura-pura masih kerja. Sementara rekan kita yang lain sudah sedari Ashar tadi pamit dari kantor.
Kopi kita tinggal sehirup. Kertas sudah kurapikan dan ragaku siap pulang. Batinku yang berontak memaksa untuk tinggal barang sejenak. Tiba-tiba, mati lampu.
Kau mengeluh dalam gelap. Aku ikut-ikutan. Mendadak saja sepi. Petang datang dan adzan Maghrib menggema.
"Kau tidak pulang?" Tanyamu. Aku jawab tidak. Aku mau menunggu terang lagi sekalian menyelesaikan pekerjaan lain. Magrib itu aku separoh berdusta. 
"Baiklah, aku sholat dulu di mesjid. Hati-hati di sini sendiri. Ada hantu!" Selorohmu. Aku mengomel karena benci cerita hantu tapi suka candamu. 
Lama kutunggu listrik tak juga menyala. Sementara sayup-sayup suara Imam mesjid memberitahuku para lelaki masih sampai rakaat dua. Aku menyerah. Tidak baik bagiku berlama-lama sendirian walaupun aku ingin pulang bersama. Sesuatu hal yang tidak pantas tapi moralku kalah dengan perasaan. Kulambatkan gerak demi mengobral waktu. Imam akhirnya mengucap salam.
Tiba-tiba kau muncul.
"Sepertinya kau harus pulang," katamu. Aku mengangguk setuju. Tidak ada gunanya menunggu lagi. 
"Sebentar," katamu lagi. Kemudian kau menyalakan sepeda motor, lampu sorot menerangi jalanku. Aku tau kau tidak akan bisa mengantarku. Lampu sorot itu sudah lebih dari cukup
"Silakan, dan hati-hati!" Katamu lagi. Aku tersenyum melenggang pulang, denganmu mengamati.

Orang yang jatuh cinta memang cenderung melakukan hal-hal bodoh.

Senin, 17 Januari 2022

Di Balik Kursi

Ada bisik-bisik berbatas kursi bis patas. Cengkerama yang ingin kita lanjutkan siang malam tanpa perlu diketahui siapapun. Kulirik dari jendela, bayanganmu memantul sedang senyum malu-malu. Aku ikut tersipu.
Bis terus melaju bagai obrolan kita. Tidak kudengar sahut yang lain, pikiranku sibuk merangkai cerita. Matahari turun, keremangan memenuhi dan detak jantungmu semakin jelas karena kali ini, orang-orang hanyut dalam dengkur. Ditenangkan mimpi sampai tujuan meski aku tak mau bis berhenti. Kuraba punggung kursimu, seandainya saja kita tanpa sekat.

Laun aku terpejam. Kisah kita sudah berakhir. Waktu hari terang lagi, kudapati matamu berkaca-kaca menatapku dari balik kursi bis patas.

Selasa, 08 Juni 2021

Karena Dalam Mimpi Kita Tidak Patah Hati

Selimutku saban malam adalah sesal. Oleh karena itu, kulalui gulita bersamamu. Kubawa perasaan bersalah itu ke dalam mimpi. Setiap kali kau hadir, aku tetap saja tercengang. Bahkan dalam alam bawah sadar kau membuatku bertanya, "Apakah ini nyata?". Lalu muncul pertanyaan beruntun lainnya, "Apakah kau tersenyum? Apakah kau sudah memaafkanku? Apakah perasaan bersalahku sudah cukup untuk diampuni?". Tentu saja tidak adalah jawabannya. 

Pagi hari aku ditemui air mata, kadang-kadang aku ingin kau menerima sesalku. Meminta maaf berulang kali tidak pernah cukup, karena jelas-jelas aku menyakitimu hingga akarnya. Bagaimana mungkin, aku pantas dimaafkan? Maka, kuterima saja mimpi indah itu. Meski aku bangun dengan mendung.

Ada yang kukira tidak pernah berakhir, yaitu hubungan kita. Tidak masuk akal rasanya. Kau selalu menjadi bagian dari masa depan. Kita pernah saling tanya, bagaimana jika satu di antara kita harus pergi? Saat kau akhirnya pergi, aku tau aku tidak baik-baik saja. 

Kata orang, kita bukanlah sepaket yang serasi. Kita bagai langit dan bumi. Tapi orang tetap saja terheran saat kau jalan sendiri, aku entah di mana. Paket yang tidak serasi ini bisa berpisah juga? Lambat laun kita menjadi asing. Lebih asing dari yang terasing, karena kita tak akan pernah berkenalan lagi.

Hari ini aku memikirkanmu. Memikirkan mimpi-mimpi indah dengan harapan kau muncul kembali. Kapan aku punya kesempatan menemuimu, kecuali dalam tidurku?




Aku masih sahabatmu, kau terima atau tidak.

Selasa, 27 November 2018

Senjang

Apa-apa serba di Jakarta. Kalau tidak di Jakarta, ya sekitar-sekitarnya saja. Pantas anak muda malas pulang dan mengabdi di kampungnya. Di Jakarta semua serba ada. Kemewahan dan kekumuhan beranak pinak di kota gemerlap itu. Sewaktu sidang dulu, yang meloloskanku bukanlah jawaban absurd mengada-ngada dan sok tau kepada dosen penguji. Jika hanya mempertimbangkan nilai yang diberikan oleh Penguji, aku sedikit banyak yakin lolos dari ruangan ini membawa nilai C. Syukur Alhamdulillah, nilai akhir dari sidang skripsi didapatkan dari dosen penguji dan dosen pembimbing. Sebagai dosen pembimbing, tentu kadang ada keberpihakan kepada mahasiswa bimbingannya. Meskipun dosen pembimbingku tidak seperti itu, karena beliau memiliki integritas dan kejujuran tingkat tinggi, ditambah fakta bahwa aku adalah anak koleganya di almamater ini 40 tahun yang lalu. Beliau tentu ingin melihat apakah aku mewarisi sikap intelektual dari Bapakku yang cerdas bukan kepalang di masanya. Apakah aku sekedar anak manja di bawah perlindungan rekan yang tidak bisa ditindas karena nanti mengadu.
Kembali ke jawaban yang menentukan kelulusanku. Seperti kukatakan, aku lulus bukan karena jawaban absurd nan sok tahu kepada penguji. Tapi justru jawaban kepada dosen pembimbing yang bertanya, "kamu bikin skripsi ini manfaatnya apa?". Setengah membual aku menjawab, jawaban yang diplomatis tapi diliputi harapan yang siapa tau bisa terlaksana.
"Data ini bisa dipakai masyarakat, Pak. Untuk memajukan mereka dengan caranya dan sumberdaya alamnya sendiri". Panjang lebar kuceritakan saja mimpi-mimpi yang menghantuiku sejak SMA, yang berakhir menjadi skripsi tebal dengan 45 halaman lampiran, menanti diwujudkan. Dosen-dosen mengangguk. Aku menangis. Bukan takut tidak lulus. Sekedar haru mimpi muluk itu didengar expert. Profesor pula.
Pertanyaan-pertanyaan mengalir mengenai tumbuhan obat yang menjadi bahan perbincangan skripsiku. Segala macam teori kuungkapkan, dosen-dosen terkadang mendengus, terkadang mengangguk. Lalu pertanyaan terakhir diajukan, yang sesungguhnya tidak ada hubungan dengan topik yang kubahas.
"Mengapa Indonesia ini tidak maju-maju?" Profesor itu yang bertanya. Klasik! Aku tau benar Profesor yang satu ini eksentrik dan suka mengata-ngatai pemerintah. Maka, segala macam slide kuliah yang berhubungan dengan hal itu sudah kubabat tadi malam. Kujawab dan Profesor menunjukkan wajah tidak puas. Aih, jawaban itu kan ajaran Anda, Prof!
"Itu semua sudah jelas. Tapi menurut kamu sendiri, kenapa??" Aku terdiam. Kenapa? Mendadak aku kembali ke masa lampau karena pertanyaan kenapanya itu. Bayangan masa kecilku hingga remaja di kampung halaman melintas. Aku ingat benar, pertama menginjakkan kaki di kampus ini, yang menyapaku adalah kekaguman dan kesadaran bahwa aku bodoh bukan buatan. Pertama kali aku menempelkan mata ke mikroskop ya di kampus ini, di laboratorium pengajaran mata kuliah Biologi. Sementara kolegaku mendengus bosan, tentu dia sudah hapal hingga mikroskop SEM dan teman-temannya. Di SMA-mungkin di SD juga, mereka puas memandangi benda itu. Di SMA ku tidak ada mikroskop. Bahan-bahan kimia di laboratorium, jika cair dia sudah membeku, dan jika padat dia sudah hancur saking berpuluh tahunnya ada di sana, tak terjamah. Model badan manusia beserta organ dalamnya berdebu, nampak betul tak tersentuh. Ruang laboratorium itu lebih sering dipakai rapat OSIS, menjadi saksi akan konspirasi masa muda para anggotanya yang diwarnai bermacam korupsi. Fasilitas tak memadai, demikian sebabnya.
Lalu kuingat tentang KRL, tentang trans Jakarta, tentang apapun itu yang ada di ibukota tapi nihil di kampung halaman. "Indonesia begini saja karena kesenjangan yang besar, Pak." Air mataku kembali mendanau di pelupuk. Oh, seandainya negeri ini dipimpin dengan adil, aku tidak terseok-seok belajar dan berani bermimpi lebih besar. Ilmu-ilmu kami akan lebih melimpah. Bukan hanya ber "oooooh" ria dengan kagum karena kami kampungan. Kebaikan-kebaikan seolah hanya dipoles di kota metropolitan dan tetangga-tetangganya saja. Kualirkan cerita mengenai ketidakadilan yang mendera kampungku dibandingkan kota dengan segala pejabat negara ini. Kusesali ketimpangannya. Profesor tersenyum dengan miris. "Betul!", dan aku terhenyak.
"Betul, memang ketidakadilan itulah sebabnya. Kemajuan apapun berpusat di sini, di kota besar ini. Adapun yang di kampung hanya terciprat sedikit, itupun yang kena petinggi daerah. Masyarakatnya begitu saja." Profesor mengatakannya dengan marah. Ia muak dan muntab.
"Maka, kamulah yang harus pulang, anak muda! Kamulah yang harus perbaiki ketertinggalan itu. Pulanglah! Mengabdilah! Wujudkan cita-citamu! Buatlah masyarakat itu tidak terkekang kebodohan." Aih, mantap benar nasihat beliau. Aku tertunduk, malu karena sebagian besar diriku enggan. Enggan, karena setelah kucicipi ternyata racikan kehidupan di kota ini nikmat. Fasilitas serba ada, mau apapun serba bisa. Asal tau celah dan informasi, maka hiduplah kamu dengan kesenangan seperti di tivi-tivi itu. Gagasan pulang, dengan mimpi yg terpatri dari SMA, menjadi jauh. Tapi, keegoisan macam itukah yang menyebabkan kampung kami demikian saja selamanya? Karena, yang berkewajiban memajukan negara ini pun enggan menjenguk kampung-kampung kecil. Apa bedanya aku dan egoku dengan mereka, kalau begitu? Aku menunduk dan menjawab "Ya.." sepelan mungkin.

Morex


Jumat, 05 Oktober 2018

Aku sedang bertanya-tanya, sekiranya gempa yang besar itu hadir di sini, tempatku sedang mengetik ini, bagaimanakah aku?
Mungkin selamat, mungkin tak selamat. Perihal selamat tak selamat itu Allah-lah yang tau, karena ajal tak bisa diterka manusia. Masalahnya, aku tau benar sekian macam dosa kusikat saja. Sengaja tak sengaja, sendiri maupun beramai. Dosa-dosa kecil yang menumpuk ria menjadi besar. Dosa-dosa besar yang aku alpa menganggapnya besar. Kadang lain di hati, lain di mulut, lain di buat. Macam orang tak punya iman.
Aku lebih sering kabur dari mengakui, meski di hadapan Illahi. Pintaku, dosa segitu saja gampang tobatnya. Pasti diampuni, kan?
Aku pasti masuk surga, kan? Percaya diri benar! Padahal banyak firman-Nya dan sabda Rasul-Nya mengenai orang-orang munafik. Ah, janganlah aku digolongkan ke sana. Kudengar mereka berada di kerak neraka selamanya. Mengerikan.

Kembali kita menduga, apa kiranya jika gempa itu menyapa (lagi)?
Tilawahku patah-patah, hapalanku minggat entah ke mana. Rawatib, seolah aku lupa shalat wajib itu berteman dengan shalat sunnah. Sedekah badanku abai dipenuhi, lantaran dhuha lebih sering dilewati. Shalat malam? Malam itu untuk tidur, kawan. Demikian bisik-bisik setan dalam mimpi indahku di Pulau Kapuk. Mulutku makin lama makin meracau saja bahasanya. Mirip orang tak beradab. Akhlaq-ku terjun bebas, mati.

Demikianlah, kawan. Sekiranya bencana demi bencana kualami, siapkah aku mati? Menghadap malaikat yang nanti menanyaiku di alam kubur lalu diadili oleh Yang Maha Adil

Kawan, dosa segunung ini kubuang ke mana? Rasanya sakit parah pun tak bisa membuangnya ke tengah lautan. Kawan, aku terlampau berdosa, aku harus apa?

Sebentar, sepertinya angin membawa kabar. Katanya, istighfar dan mohon ampun kepada Allah Subhana wa ta'ala