Kamis, 12 Oktober 2017

Curiga


Tapi tidakkah aku curiga?
Bahwa sesungguhnya akulah yang kerap meletakkan ekspektasi terlampau tinggi
Menabur harap terlalu banyak
Menanam ego teramat dalam
Sehingga, ketidaksesuaian buatku kecewa
Paling merana
"Ini bukan mauku!" Aku membatin. Namun barangkali mauku bukan mau orang lain.
Atau barangkali aku terlampau sibuk menempatkan prasangka di tiap sisi



Membayangkan betapa angkuhnya dunia terhadapku
Seolah semua berniat menjatuhkanku
.
.
Benarkah aku yang paling benar dan yang lain paling salah?
Benarkah aku yang dilukai dan yang lain melukai?
Bagaimana jika,
Ternyata ada torehan lebih dalam kuukir di hati yang lain
.
.
“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik” -Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Rabu, 11 Oktober 2017

TOTALITAS TANPA BATAS

"Cara supaya kamu benar-benar menekuni apa yang kamu kerjakan sekarang, adalah dengan mengorbankan banyak hal dalam menjalaninya," demikian nasihat mbak yang baik hati melatihku memanah. Tidak persis seperti itu, tapi begitulah intinya. Aku curhat betapa mahalnya peralatan memanah. Sebatang anaknya saja bisa mengeringkan kantong dalam sekejap. Masih satu anak panah. Apalagi sewaktu string putus, mata anak panah menghilang, dan segenap perintilannya yang harganya agak keterlaluan dilihat dari sudut pandang anak rantau. "Kalo kamu tabung perlahan-lahan, kamu beli satu persatu, bukankah kamu jadi lebih semangat untuk berlatih?"
Ah, dia benar. Karena selanjutnya kocek harus dirogoh, demi olahraga yang lain. Yang sama menyenangkannya dan sama berfaedahnya. Awalnya latihan sebulan sekali. Lambat laun seminggu sekali. Semakin ke sini merencanakan seminggu dua kali.
"Aku punya peralatan ini. Sayang kalo gak pernah dipakai."
Kemudian terbinalah diri ini, jiwa raga dan pikirannya. Kadang, totalitas harus tanpa batas.

Getir

Dalam dadak
Guyur hujan bertemu sambar
Abu-abu, sore itu
Penghujung Oktober yang basah
Persis pipimu,
Sepatumu, bajumu, rambutmu
Kuyup
Kuintip sedikit ke hatimu, ternyata membara
Mengapa pipi dinginmu menyala?
Oktober ini, pipiku yang basah
Hatiku pun
Mataku
Matamu
Matanya
Senyap dan petir lalu berdansa,
Dalam irama isak.

Kamis, 06 Juli 2017

L E L A P

Pejam lebih kejam
Senyap ia balut kelam malam
dalam ketiadaan sadar
pada akhirnya waktumu habis
Bersama mimpi yang tak habis
Kejam memang pejam
Diam
semerta pelan
Dalam lelap aku,
kehilanganmu

Senin, 26 Juni 2017

menanamkan penyesalan

Janji
ternama bisik paling berisik
menolak menancap namun menyakiti jua
entah genderang telinga entah hati yang pecah
Buyar sudah air mengaca
Perkara janji kerap menanam luka
aku benci
di ujung pelangi ternyata hampa
dan bisik berisik
janjimu

Jumat, 23 Juni 2017

Pengikhlasan

Aku ingin berterima kasih padamu
yang meninggalkanku di antah berantah penyesalan
Bersama puing hati yang telah kau lantakkan hingga luluh
Terima-kasih
Pada akhirnya ku-sadari
perbuatanmu mempertemukanku dengan penata hati
yang menarik tanganku menjauh dari lembah biru kesedihan
Terima-kasih
Pada akhirnya ku-sadari
Satu hatinya yang tidak akan kau hancurkan
sesosok mungil yang lebih membutuhkanmu, lebih dari aku
aku tak butuh kau lagi
Muram suramku bermuara jua, di akhir sungai bahagia

Selasa, 06 Juni 2017

tak guna

Ada kaca
retak tertera nyata
di matamu
embun
berpelukan menjadi danau
menganak sungai
di pipimu
adakah aku lihat darah menyiprat di irisan itu?
katamu
sakit hati
kau sibuk jadinya
mengoles obat merah
di lebam
kadang aku berpikir kau memang tidak berguna
sedikit-sedikit, sakit hati