Selasa, 18 Agustus 2015

Selasa, 28 Juli 2015

Celotehan rindu

tanggal 28 Juli 2015..
berarti tinggal 3 hari lagi aku di sini, di siantar. Rasanya berat mau meninggalkan kota kelahiran tercinta. Iya, sih. Waktu pertama sampe siantar lagi dari Bogor, langsung pengen banget balik lagi ke Bogor. Soalnya waktu itu di rumah gak ada siapa-siapa, cuma papa dan adek imah. Dan itu bukan di rumah, tapi di mess karena rumah lagi direnovasi. Tapi beberapa hari kemudian mama pulang, dan kemudiannya lagi dek opan pulang (karena sakit), dan bang bayu-kak harli-habib makin sering datang. Beberapa harinya lagi kak putri juga pulang, tapi dek opan harus balik lagi ke mesjidnya. Rumah jadi rame-dan rapi, karena ada kak putri dan dek imah. Terus lebaran hampir tiba, dan seperti tahun tahun sebelumnya, nyaris tiap lebaran ada tambahan satu orang yang ikut keluarga kami. Tahun ini?orangnya adalah bang asep. Anak teman papa yang lagi mendalami agama. Ramelah rumah kami yang kecil tak seberapa ini. Sehari sebelum hari raya kami mudik ke rumah nenek. Pulang dari rumah nenek, ada tambahan satu orang lagi: Taufiq. Udah biasa kalo libur panjang dan kami ke rumah nenek, Taufiq ikut pulang ke Siantar. Taufiq ini anak adeknya papa, alias sepupuku. Total orang rumah jadi 11 orang. Bang bayu sekeluarga, ditambah topan-topik-bang asep pulang ke rumahnya. Tapi hampir tiap hari datang ke rumah papa. Terus mama pergi ke sidimpuan. Waktu mama pergi, datang tamu menginap di rumah selama 2 hari. Jadi rumah gak pernah sepi. Beberapa hari yang lalu, bang asep izin mau backpacker ke berastagi dan sekitarnya. Berkuranglah satu personel. Trus dek opan harus balik lagi ke mesjidnya, dan besok atau dua hari kemudian kak putri dan topik pulang ke rumah dan kos masing-masing. Waktu pagi kak putri mau pulang, aku masih tidur. Kak putri bangunin dan nanya, "Adek gak ngantar kakak?" Tapi aku setengah sadar dan cuma menggumam "hhmmm..iyaa.." lalu tidur lagi. yang aku ingat cuma kak putri nyium pipiku. Waktu bangun, aku pikir kak putri masih ada di tempat tidur bawah (tempa tidur kami modelnya ditarik,aku tidur di atas dan kak putri di bawah). Ternyata semua orang udah pada pergi. bahkan mama dan adek imah berangkat sekolah. Barulah terasa sepinya. Sepi banget. Ditambah cuaca siantar yang sering kena tiup angin. rasanya makin sepi waktu ngelihat pohon mangga di depan jendela kamar goyang ketiup angin. Sepi...rindu.. Terus ngebayangin gimana kalo aku udah balik lagi ke Bogor. Sepinya jadi triple, soalnya 3 anak mama perantau di kota orang, 1 orang udah nikah (tapi rumahnya masih di deket kota siantar-di pinggiran kota siantar lebih tepatnya), dan dek imah setaun lagi tamat SD dan mau masuk pesantren. Duuuh gimana sepinya rumah ini? Mama pasti ngerasa sepi banget banget T^T. Kalo udah kaya gini pengen cepat-cepat lulus biar bisa segera balik ke siantar nemenin mama sama papa. Dan barusan aku sedikit berargumen sama papa. Yah papa kan jahil, dan aku kesal. Jadi aku marah dan banting pintu kamar. Nyesel sih, karena keliatan papa merasa bersalah, padahal tadinya papa cuma main-main. Kalo inget perbuatanku itu rasanya pengen mutar waktu, berusaha sabar dijahilin sama papa, dan gak banting pintu. pengen putar waktu ke sebulan yang lalu juga, biar liburan lagi sebulan. Bhakan dengan mama dan papa dan adek imah di kamar sekarang, aku udah ngerasa rindu. Semoga semester depan aku pulang dan bertemu kalian lagi keluargaku tercinta


Celoteh malam yang aneh dan penuh rindu serta sesal dariku

Senin, 27 Juli 2015

Rindu

Halo kamu..iya, kamu..
Rindukah kamu padaku?
Karena aku, merindukanmu
Ah, tidak
Bukan kamu
Tapi kita
Memori kita
Masa lalu kita
Aku merindukan kita
Kita dengan kaki-kaki kecil berlarian di hutan
Hutan pinus itu
Aku merindukan aroma tajam dari tusam
Merindukan permainan sederhana kita dari daun jarumnya
daun siapa yang patah lebih dulu, dia yang kalah
Sesederhana itu
Aku merindukan kita
Kita yang diam-diam bersembunyi di balik semak belukar
Membangun gua kecil dari ilalang
menghindar, karena tertembak senapan dari pelepah pisang berarti kalah
Kita lama meringkuk
Bahkan kadang sampai matahari tenggelam
Aku rindu kita
Yang saling gelitik di gubuk tua
Hasil tangan kecil kreatif,batang lalang jadi rumah
Aku rindu kita
Kejar-kejaran dengan sepeda
Aku rindu kita
Main sepak bola hingga malam tiba
Aku rindu kita
Yang kerap memanjat pohon kelengkeng di depan TK Tunas Rimba
Ah, dasar kita anak hutan
Aku rindu kita
yang diam-diam menyusuri setapak
Aku rindu kita
yang pagi-sore di bis sekolah
Menyusuri jurang dan hutan di jalan lintas
Aku rindu kita
Kita yang mendaki puncak panorama
Kita yang berjalan di setapak lumut
Kita yang berjalan di antara kantong semar
Kita yang menikmati Danau Toba
Di antara pinus-pinus tua
Aku rindu kita
Yang punya kursi dari ban bekas
Aku rindu kita
Yang punya tempat tidur di atas pohon jambu
Aku rindu kita
Yang tiap pagi berlomba-lomba menghembuskan napas, melihat siapa yang mengeluarkan asap
Aku rindu kita
Yang meringkuk di balik selimut tebal
Aku rindu kita
Yang duduk di bangku batu
Aku rindu kita
yang bermain komidi putar dari atap bangku taman yang rusak
Aku rindu kita
Yang menyatukan 2 seluncuran patah
Aku rindu kita
Yang membangun rumah-rumahan di tiang ayunan rongsok
Aku rindu kita
Aku rindu tusam itu
Aku rindu setapak lumuat itu
Aku rindu lapangan bola itu
Aku rindu cuaca dingin itu
Aku rindu tawa itu
Tawa kita
Aku rindu kita

Rabu, 08 Juli 2015

LDK Al-Hurriyyah


Just some random picture about LDK Al-Hurriyyah IPB


Amunisi mau ujian, dari kak Soni dan Mba Andin :) (Kadep dan sekdep di Islamic Program)

Akhwat-akhwat tangguh waktu rihlah ke Kawah Ratu

Ultah kyam, waktu syuro di ruang sahabat, di kerjain Kak Soni :D

Kak Soni, Kadep Islamic Program (cengiran setelah ngerjain Kyam -_-)

waktu spectrum, gerbang masuk lembaga Al-Hurriyyah, jangan tanya ane yang mana :D

Logo LDK Al-Hurriyyah

Ini dia Super Team LDK Al-Hurriyyah 1435H

Nametag buatan harun, untuk departemen Islamic Program-Pelantikan LDK Al-Hurriyyah 1435 H

Irma, Kawah Ratu (jangan tertipu dengan dia :o :D )

Menapaki langkah berduri, menyusuri rawa lembah dan hutan~

Hampir sampe Kawah Ratu




















Udah, gitu aja, ceritanya kapan-kapan :D

Senin, 15 Juni 2015

MAAF

Maaf, sekiranya yang aku sampaikan menyakitimu
Maaf, sekiranya kamu harus menahan sabar karena kata-kataku
Tapi bolehkah aku mengatakan kebenaran yang pahit?
Diam dan sakit, diam dan tak berubah
Sistem berputar seperti ini lagi dan lagi, dan kita bertanya, apa yang salah?
Kita kurang koreksi, barangkali
Kita tak mau tersakiti, barangkali
Pada dasarnya kritik memang menyakiti, saran mungkin memang terasa menggurui
Tapi saat kamu akan jatuh, kamu pikir aku akan membiarkanmu?
Aku akan menahanmu, meski tanganmu terluka karena itu
Aku ingin kita berubah
Menghilangkan egoisme

Terasa pedas? Aku tau
Aku dulu pun merasa begitu
Tapi karena kata kata yang tajam menghujam, aku berusaha berubah
Aku harap yang aku katakan ini benar,  aku harap kita juga sama sama berubah
Maaf, aku tak punya niat menyakitimu
Aku hanya ingin revolusi
Aku jenuh dengan kebiasaan seperti ini
Kebiasaan, yang aku perhatikan, kamu lelah habis-habisan
Aku? Berpikir pun tak perlu
Semua sudah kamu atur, semua sudah beres di tanganmu
Tapi apa memang itu tujuan kita?
Tujuan kita berjalan bersama, beriringan, menjadi muslim rahmatan lil alamin
Lantas kenapa aku malah merasa mengekor? Bahkan lebih terasa seperti menyeret
Aku tak mengerti kenapa harus ditanya,"seberapa besar komitmenmu?"
Saat kujawab komitmen penuh, tapi aku tak kerja apa-apa lantaran semua habis kamu kerjakan
Ayolah, kita bersama..
Apa gunanya aku?

Rabu, 10 Juni 2015

Adikku sayang

Bismillah
barusan adik laki-laki saya menelepon. karena saya paksa,haha. Entah kenapa beberapa hari ini kepingin sekali dengerin dia ngaji. Mungkin karena bongkar-bongkar hp, nemu rekaman dia lagi ngulang hapalan. Kangeeeeeeeeeeeeeen banget. Begitu saya dan dia tersambung, saya langsung bilang, "dek, ngaji!" Kedengarannya adik saya langsung bingung :D Setelah dipaksa berulang kali, dengan cerita panjang lebar, baru dia mau mengaji. Allah..Irinya..Dia bertanya pada saya, "hapalan kakak udah berapa juz?" Duh, malu rasanya. Jangan tanya berapa juz, dek. Berapa surat pun jangan. Malu. Hapalan kakak kalah jauh dengan hapalanmu dek. Jauh sekali. Lalu adik saya itu cerita, dia mengajari orang untuk mengaji. Ya Allah. Kakakmu ini masih diajari juga, dek. Rasanya itu....:( Lalu dia cerita lagi:
"Kak, kakak hari raya ini pulang?"Tanyanya.
"Insya Allah dek.."
"Aku gak pulang kak, Insya Allah mau ke IPB (India-Pakistan-Bangladesh)"
"Iyaa??!!Alhamdulillah." Terharunya ya Allah, khuruj 4 bulan di IPB. Khuruj itu ya..dakwah gitu deh. Berkunjung dari satu rumah ke rumah, dari satu masjid ke masjid, mendakwahi islam, mendalami islam, berbagi dengan kelompok minoritas dan orang-orang yang tak tersentuh agama. Banyak yang mencela, memang. Sekelompok orang, dengan pakaian gamis, berbulan tak pulang, karena berniat untuk "Fastabiqul Khairat".  Malah ada yang menganggap sesat. Orang memandang hina, karena yah penampilannya itu, lho. Kadang kelihatan kaya orang gak punya, hehe. Padahal kalo diselidiki, orang-orangnya orang kaya, tapi insya Allah zuhud. Seandainya yang menghina itu pernah masuk ke lingkungan mereka, mendengarkan ceramahnya, Allah...mudah-mudahan paham, deh. Dan insya Allah adik saya ini mau bergabung untuk berdakwah di IPB. Seriously, berdakwah, bukan merakit bom seperti anggapan orang (hahaha ada ada aja). Setelah berbincang dengan rencana perginya dia khuruj 4 bulan, saya diajari makhraj huruf yang benar. Adik saya tertawa waktu saya cerita saya gak lulus lulus tahsin :D *tutup muka* *doble cadar*. Satu per satu huruf hijaiyah saya lafalkan, yang salah dia koreksi. Apakah saya malu?Tidak!Saya bangga dengannya. Adik kecil saya, yang dulu jadi teman bertengkar saya, sekarang mengajari saya mengaji, via telepon. Dia yang dulu nakal, tapi nekat, sekarang sedang berusaha mengemban misi dakwah. Berusaha menjadi hamba terbaik. Berusaha menghadiahkan mahkota kehormatan untuk orang tua saya. Saya tidak malu, saya iri. Allah...perkenankan hamba juga ya Allah. Pada akhirnya adik saya mengatakan, "ya udah, kakak belajar dulu sana" Adikkuuuu. betapa bangga kakak padamu


Untuk yang tersayang, Muhammad Topan Amirullah (aka Habib Raihan/aka Muhammad Al-Faruq) :D



dari, kakakmu

Selasa, 09 Juni 2015

pasrah

Allah..
Rasanya pengen menjerit. Semester 4 ini benar-benar kacau. kacaaaaaaaaaaaaau. Padahal udah meniatkan diri, semester ini IP harus sempurna. Tapi apa daya..Semester ini benar-benar diforsir. Tugas, tugas, tugas, tugas, tugas. Pengamatan, laporan, pengamatan, laporan, implementasi, seminar, Ya Rabbiiii. Praktikum semuanya secara kelompok. Allah. Hamba gak bisa kerja kelompok T,T. Masih individualis. Kalo udah kerja kelompok bingung harus ngapain. Gak ngerti. Ujung-ujungnya malah menzolimi teman sekelompok. Rasanya jadi gabuters, ngerasa gak enak banget sama teman-teman. Akhirnya Allah kasih amanah jadi ketua kelompok. Subhanallah. Benar-benar diuji hatinya, sabarnya. Allah. Gak tau lagi harus gimana. Pasrah. Allaaaaah...