Jumat, 04 Juli 2025

Validasi yang Dibutuhkan Wanita

 "Adek jangan pergi duluan, ya"

Kata-kata itu meluncur keluar dengan halus tapi masuk ke rongga hatiku dengan tajam, menusuk titik paling vital dan membuat jantungku bergetar. Mata yang menatapku sendu, entah emosi apa saja di dalamnya. Satu kalimat yang meyakinkanku supaya tetap semangat dan merasa dihargai untuk waktu yang lama. Satu kalimat yang memintaku tetap ada, merasa dibutuhkan dan dicintai. Padahal 5 menit sebelumnya aku sedang terisak menangisi nasibku dan lelahku sebagai ibu. Hatiku berkali-kali membatin, "Apa gunanya? Tidak ada yang akan memelukku dengan pujian, berterima kasih karena pasti semua orang memanggap ini kewajibanku. Aku harus memeluk diriku sendiri!". Semua itu hanya ada di kepalaku, tapi lagi-lagi pria ini menembus pikiranku dan menemukan apa yang berkecamuk di dalamnya. Dia datang, menciumi seluruh wajah basahku lantaran air mata.

"Kalau abang gak ada, adek pasti masih bisa bertahan. Kalau adek gak ada, abang gak tau harus gimana". 

Hatiku mencelos. Setiap hari kubayangkan skenario hidupku tanpa dirinya. Tidak, aku yang tak akan mampu bertahan tanpa kehadirannya. Pria paling sabar yang selalu berusaha memahami kami sekeluarga. Orang yang setiap waktu mengorbankan dirinya sendiri, menahan banyak hal demi ego istri. Aku amat sangat mencintainya. 

Pada titik ini, aku hanyalah lelah. Aku sangat mensyukuri peranku, menyayangi anak-anakku, dan tidak ingin berhenti. Aku ingin menjalani hidup ini sepenuhnya. Hanya sedikit keinginan untuk menikmati waktu sendiri, 1 jam tanpa beban pekerjaan dan panggilan bunda bunda bunda walaupun sejujurnya aku tak tau lagi bagaimana jadinya aku tanpa suara itu. Kukira aku akan bertahan hanya karena anak-anakku membutuhkanku, tapi rupanya yang cintanya paling kutunggu inilah fondasinya. Wanita selalu butuh validasi, dan suamiku selalu berhasil mengafirmasi kebutuhanku.

Semoga Allah kuatkan cinta kita selalu dan meridhoi pernikahan ini. Barakallah fiik