Aku selalu takut menikah. Bagiku, pernikahan adalah pintu menuju kehidupan yang menyedihkan. Entah dari sisi perselingkuhan, KDRT, perasaan kesepian, dan hal melelahkan lainnya. Kutemukan kenyamanan dalam kesendirian dan kubayangkan apa jadinya diriku jika sekamar dengan orang asing, seorang pria pula. Mungkin aku akan meminta kamar sendiri. Mungkin aku tak akan merasa cemburu. Mungkin aku tak akan merasa cinta.
Tapi hatiku bukan milikku. Takdirku pun sudah lama tercatat. Aku ditakdirkan menikah, dengan laki-laki paling asing.
Pagi ini aku terbangun dan menemukan sepasang mata menatapku lekat. Senyumku merekah, sebab sepanjang malam kucari mata ini dalam mimpi namun tak kutemukan. Kulihat ia sudah rapi, siap berangkat kerja.
"Abang pergi dulu, ya," katanya. Aku ingin bangun tapi kepalaku berat. Sudah 4 hari aku nyaris tak bertenaga. Sebab musababnya, dalam perut sedang kukandung anak kedua pria ini. Anak kedua, aku tertawa dalam hati. Siapa sangka aku akan amat ikhlas mengandung, dengan jarak anak pertama dan kedua yang hanya 10 bulan. Tapi laki-laki di hadapanku ini malah membuatku yakin.
Lihatlah dia pagi ini. Aku membuka mata, yang kudapati sosoknya sedang tersenyum. Sedang memandangi kami, aku dan gadis kecil yang lelap di sampingku. Katanya lagi, sarapan sudah dibeli siap kusantap. Katanya lagi, kalau aku mau ke kantor bilang padanya supaya aku dijemput. Katanya lagi, istirahat yang cukup. Diciumnya keningku, diciumnya anak kami, lalu dia berangkat menyisakan rindu karena aku benci tak bersamanya.
Waktu aku masuk kembali ke rumah, kulihat gawaiku sudah dalam kondisi baterai penuh karena pastilah priaku ini yang mengisi dayanya.
Ah, kenapa dulu aku selalu takut menikah? Sekarang yang kutakutkan adalah aku tak lagi menikah dengannya.
Terima kasih, cintaku